Selasa, 22 Desember 2009

Kalender Hijriyah dan Tahun Baru Islam




Udah cukup lama nih bang jeki nggak ngeblog…soale akhir2 ini rada sibuk fren, maklum kejar setoran hehe…

Oh iya bang Jeki ingin ngucapin selamat tahun baru Hijriyah yang ke 1431 H, tak terasa yah, begitu cepatnya waktu berlalu, perasaan blum ngelakuin apa2 di tahun yang lalu eh sudah nongol lagi tahun yang baru, padahal perasaan bang jeki resolusi untuk tahun yang lalu aja belum tuntas, eh udah harus bikin resolusi lagi tahun ini hihi..dasar emang bang jeki itu the master of delay, alias hobi banget menunda2 pekerjaan hehe..

Kali ini bang Jeki ingin sedikit bercerita tentang tahun Hijriyah, yang dalam bahasa arabnya disebut At-taqwim al hijri, system penanggalan islam ini memiliki perbedaan mendasar tentang cara penghitungannya dengan penanggalan masehi. Penangalan Hijriyah menggunakan system kalender lunar (komariyah) yaitu penghitungan hari berdasarkan peredaran bulan, sedangkan kalender masehi dengan metode syamsiah atau penghitungan hari berdasarkan peredaran matahari. Penentuan dimulainya sebuah hari atau tanggal pada kalender Hijriyah berbeda dengan kalender masehi, dimana pada kalender masehi sebuah hari atau tanggal dimulai pada pukul 00.00 teng! waktu setempat, sedangkan pada system kalender Hijriyah , hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah juga dibangun berdsarkan rata-rata siklus sinodik bulan. Kalender lunar (qomariyah) ini juga memiliki jumlah bulan yang sama dengan kalender masehi, namun dalam penghitungan dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari) Hal ini lah yang menjelaskan kenapa 1 tahun dalam kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari di banding dengan kalender masehi, Siklus sinodik bulan juga bervariasi, ini juga menyebabkan jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender Hijriyah bergantuing pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi dan pada saat bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Nah dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29-30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiganya , yaitu Bulan, Bumi dan Matahari.

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke -29, maka jumlah hai pada bula tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus, bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari dan yang mana memiliki 30 hari, semuanya tergantung pada penampakan hilal. Ini tentunya berbeda dengan kalender masehi, dimana jumlah harinya sudah ditentukan pada bulan tertentu.
Tapi kenapa ya, umat muslim masih suka berselisih tentang penentuan hari raya? kalau yang ini sih lain lagi ceritanya, pertama2 yang harus dipahami adalah metode dalam penetuan yang digunakan.  Ada 2 Metode yang biasa digunakan untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah, yaitu Rukyat dan Hisab.
Rukyat adalah aktivitas yang mengamati visibilitras hilal, yaitu mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah bulan baru (ijtima).  Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan bantuan alat optik seperti teleskop.     Apabila hilal terlihat maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.
Hisab adalah melakukan perhitungan untuk menentukan posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan dimana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat.
Sebenarnya penentuan awal bulan tidak begitu dipermasalahkan, tetapi menjadi sangat signifikan apabila penentuan tersebut untuk bulan2 yang berkaitan dengan ibadah, seperti penentuan awal bulan ramadhan dan penentuan hari raya idul fitri dan idul adha.
2 Organisasi muslim terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) memliki perbedaan tentang hal ini.   Bagi NU Landasan utama penetapan awal Ramadan dan hari raya oleh NU adalah ru'yaul hilal (pangamatan bulan sabit pertama). Bila pengamatan gagal karena gangguan awan atau lainnya dilakukan istikmal, menggenapkan bilangan bulan yang berjalan menjadi 30 hari.
Namun bagi Muhammadiyah, mereka  tidak peduli dengan hasil ru'yat. Muhammadiyah berpegang pada metode hisab dengan kriteria wujudul hilal. Yang mana dengan metode tersebut, asalkan menurut hisab, matahari telah lebih dulu terbenam daripada bulan, walaupun hanya berselisih satu menit atau kurang, telah dapat diputuskan masuknya bulan baru
Hal inilah yang menyebabkan seringnya ada perbedaan dalam melaksanakan ibadah seperti puasa atau penentuan hari raya idul fitri dan idul adha.
Begitulah bung, yang penting asas toleransi harus dikedepankan dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut, agar tidak menjadi perselisihan yang menjurus kepada perpecahan umat muslim di Indonesia.
Tapi,bagi bang Jeki ada makna yang lebih penting dalam tahun Hijriyah itu sendiri, yaitu makna perubahan dari keadaan yang kurang baik kepada situasi yang lebih baik, dalam ilmu manajemen populer dikenal dengan Change Management. Tanpa perubahan,  tahun baru atau tahun yang telah lalu tidaklah memberikan makna yang mendalam bagi seseorang, istilah nya nggak ngefek coy !.
ada sebuah syair yang cukup indah, tentang pergantian tahun Hijriyah, bang jeki nggak tahu siapa yang menggubah syair ini yang terispirasi dari peristiwa Hijrahnya Rasul dan Qs al-nur ;35.

Mentari Dzulhijjah menutup mata sudah. Rembulan 1 Muharram mengabarkan tahun baru. Jika hidupmu seperti pekat malam, yakinlah selalu ada rembulan dan bintang yang mencerahkan. Sepekat dan segelap apapun hidupmu, setitik cahayapun mampu mengusir ketakutanmu. Ditengah kegelapan hidup di mekkah dahulu, Rasul membawa sahabat-sahabatnya menjemput cahaya kota Madinah. Hijrah, mengubah hidup agar terarah. Hijrah, meneguhkan hidup diatas bimbingan cahaya. Allah adalah cahaya langit bumi, Allah adalah cahaya diatas cahaya (Qs al-nur ;35).


Selamat Tahun Baru 1431 H, semoga hidup kita kan lebih bermakna.  Amin



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar